Friday, August 31, 2012

Kalau Jodoh Gak Bakal Kemana-Mana

Felis Linanda: My Create :) 
KALO JODOH GAK BAKAL KEMANA-MANA

Seorang gadis berjalan dengan kaki kanannya yang pincang. Setiap orang yang melihatnya pasti menampakkan wajah kasihan, bahkan ada yang melihatnya dengan pandangan meremehkan. Sebenarnya gadis itu sangat cantik. Tapi karena keterbatasan itulah, ia dihindari. Pernah tidak sengaja ada yang menabraknya sampai jatuh. Bukannya ditolong, ia malah dimaki habis-habisan.
            "Kalo cacat jangan jalan di tengah, dong! Cantik-cantik, cacat!"
            Gadis itu hanya diam dan meminta maaf berulang-ulang. Dengan menahan kesedihan, ia masuk ke sebuah toko bunga, tempat kerjanya.
            "Gladys, untung kamu sudah datang. Bapak mau kirim dua puluh pot bunga ini ke Bandung. Kamu jaga hari ini, ya!" pinta Bapak pemilik toko.
            "Iya, Pak!"
            "Oh ya, kamu tolong lanjutkan merangkai bunga di meja itu, ya! Tadi udah Bapak rangkai setengahnya, kok."
            "Iya!"
            Gladys duduk dan melanjutkan merangkai bunganya. Lagi asik-asiknya merangkai bunga, seseorang masuk dan langsung duduk di hadapannya.
            "Pagi, Gladys!"
            Gladys menoleh. "Sena?"
            Sena adalah pelanggan tetap toko bunga itu. Kadang dia suka menyempatkan diri datang untuk mengobrol. Sena itu tampan banget, anak kuliahan lagi. Ia tidak malu berteman dengan Gladys.
            "Ada apa?"
            Sena tersenyum malu-malu. "Begini… aku lagi jatuh cinta."
            Gladys terlonjak kaget. Gladys menjadi sedih. Pasalnya, ia sudah tertarik sama Sena semenjak bertemu pertama kali. Kali ini pria itu berkata ia jatuh cinta sama seseorang.
            "Gladys.."
            Gladys tersadar dari lamunannya. "Ng.. iya?"
            "Kamu dengerin gak, sih?"
            "Iya, denger!"
            "Aku lanjut, ya. Valentine kan tinggal seratus hari lagi, tuh. Setiap hari aku bakal beli satu tangkai bunga sampai hari Valentine. Bisa, kan?"
            Gladys hanya mengangguk.
            "Setelah terkumpul seratus tangkai, aku bakal ajak gadis itu dinner dan aku bakal nyatain perasaan aku. Pasti romantis banget," kata Sena dengan mata berbinar-binar. "Tapi, aku gak tau gadis itu suka bunga apa. Mm, kamu suka bunga apa?"
            "Standar, kok!" jawab Gladys pendek.
            Sena mengerutkan keningnya. "Memangnya ada bunga standar?"
            "Maksud aku, standarnya pasti mawar."
            "Oh gitu, ya? Hari ini aku ambil mawar, ya!" kata Sena yang hanya diangguki Gladys.
            Sena mengambil setangkai mawar dan menciumnya. Diam-diam Gladys melirik Sena. Ah, beruntung sekali gadis yang disukai Sena. Andai saja dia adalah gadis itu, pasti Gladys senang sekali.
            Tiba-tiba Sena menoleh. "Oh ya, terima kasih atas buket bunga anggreknya, ya! Mamaku suka banget."
            "Sama-sama," kata Gladys.
            "Ya udah, aku pergi dulu. Besok aku datang lagi."
            Gladys mengangguk. Ia menatap kepergian Sena dengan sedih. Bodoh sekali kalau aku mengharapkan kamu. Mana mungkin kamu suka sama gadis cacat kayak aku? Aku harus siap untuk kehilangan kamu. Aku gak boleh berharap banyak. Tuhan, apa gadis cacat seperti aku gak bisa punya pasangan layaknya orang normal?
***
            Keesokannya Gladys berangkat dengan buru-buru. Hari ini ia bangun kesiangan. Saking buru-burunya, ia menabrak orang di depannya.
            "Hati-hati, dong!" marah orang yang ia tabrak.
            "Maaf...  maaf. ."
            Melihat keadaan Gladys, orang itu pun pergi. Gladys melanjutkan jalannya. Setiap orang melihatnya dengan pandangan kasihan. Pemandangan yang sudah biasa buat Gladys.
            Ia masuk ke dalam toko. "Maaf Pak, saya kesiangan!" kata Gladys sambil duduk di hadapan si pemilik toko.
            "Nggak apa-apa. Oh ya, tadi ada telepon buat kamu."
            Gladys mengerutkan keningnya. "Buat saya? Siapa?"
            "Sena! Katanya hari ini dia datang agak malam."
            "Terima kasih, Pak!"
            "Ya sudah, Bapak mau kirim pesanan dulu!"
            Gladys pun berdiri dan duduk di tempat yang tadi diduduki si pemilik toko. Baru saja ia duduk, seseorang sudah mengejutkannya.
            "Pagi, Gladys!"
            Gladys menoleh dengan kaget. "Sena? Katanya kamu datang agak malam?"
            Sena tertawa. Ia pun duduk di hadapan Gladys. "Wah, senengnya. Ternyata kamu selalu harapin kedatangan aku, ya?"
            "GR!"
            Sena tertawa lagi. "Maaf deh!"
            "Maaf kenapa? Ngapain kamu datang sekarang?"
            "Aku cuma bohong kok di telpon," kata Sena dengan santai.
            "Kebiasaan!" seru Gladys sambil beranjak dari duduknya. Ia menuju rak dan berusaha mengambil sebuah pot yang ditaruh cukup tinggi. Ia coba berjinjit, tapi kakinya malah terasa sakit. Sena pun membantunya.
            "Thank’s!" ujar Gladys. Ketika Gladys akan mengambil pot itu dari tangan Sena, Sena mengangkatnya tinggi-tinggi.
            "Eits, bentar dulu! Aku punya pertanyaan lagi buat kamu."
            Gladys pura-pura cemberut. "Apa?"
            "Cewek suka warna apa?"
            "Pertanyaan apaan, tuh?" tanya Gladys sambil tertawa.
            "Rencananya aku mau kasih kado juga. Nah, aku bingung mau pakai kertas kado warna apa."
            "Kamu ini aneh banget, ya? Lagian selera cewek tuh beda-beda!"
            "Ceweknya kayak kamu gitu. So, warna apa?"
            "Pink! Sini, potnya!"
            Sena memberikan potnya sambil berpikir. Gladys hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
            "Kenapa cewek suka sama warna pink?"
            Gladys menghela nafasnya. "Kita tanya Galileo!" ujar Gladys meniru kata-kata sebuah kuis.
            Sena tertawa terpingkal-pingkal. "Kamu lucu banget. Lucu!!"
Gladys heran melihat Sena, seolah-olah melihat Sena itu datang dari sebuah planet yang berbeda.
***
            Hari-hari semakin berlalu. Hari ini adalah hari Valentine. Tadi pagi Sena sudah datang mengambil satu tangkai bunga mawar lagi. Sementara itu, Gladys melamun sedih.
            Hari ini penantianku berakhir. batin Gladys dengan sedih.
            "Gladys, hari ini kamu tidak kencan?"
            Gladys menoleh. "Saya tidak punya pacar, Pak! Lagian siapa yang mau sama saya yang cacat begini?"
            “Bukannya Sena pacarmu?" tanya si pemilik heran.
            "Bukan, kok. Dia temanku saja."
            "Oh! Hari ini Valentine, kamu boleh pulang lebih awal."
            "Tapi saya kan tidak kencan, Pak! Saya nggak apa-apa jaga sampai malam."
            "Gak apa-apa. Hari ini Bapak memang berencana buka setengah hari saja. Sekarang kamu boleh pulang, Dys!"
            Gladys pun tersenyum. "Makasih ya, Pak!" katanya. Ketika Gladys bersiap-siap untuk pulang. Sena muncul di depan pintu. “Sena?"
            "Malam ini kamu ikut aku, ya?"
            "Ngapain?"
            "Aku mau kamu lihat cewekku itu. Aku mau kamu menilainya buat aku!"
            Sena masa kamu nggak tahu kalau hati aku sakit banget? Kamu suruh aku melihat dengan mata sendiri, kamu utarakan perasaan ke pujaanmu itu? Gladys ingin menjawab tidak, tapi melihat mata yang memohon itu, akhirnya ia mengangguk.
            "Yes!! Yuk, aku antar kamu pulang!"
***
            Gladys berdandan senatural mungkin. Sena sudah menunggunya di bawah. Dengan perasaan kacau ia segera turun menemui Sena. Selesai berdandan, ia dan Sena pun meluncur ke sebuah kafe. Sena memarkir mobilnya. Gladys terpesona melihat kafe yang indah dan ramai itu.
            Sena mengambil sebuah buket bunga dan sebuah kado dari jok belakang.
            “Sena, ini kamu yang rangkai?” tanya Gladys sambil menunjuk buket bunga mawar itu.
            "Iya. Yuk, turun!"
            Gladys dan Sena segera masuk ke kafe itu. Sena tidak malu membantu Gladys masuk. Mereka berhenti di pintu. Sena tampak mencari-cari ceweknya itu. "Itu tuh, yang baju putih. Yuk!"
            Sampai di depan gadis itu, Sena mencium kedua pipinya. Gladys memalingkan wajah. Hatinya terasa sakit sekali.
"Kenalin, ini Gladys!" kata Sena pada gadis itu.
            "Wah, cantik banget! Aku Sera, Kakaknya Sena!"
            "Kakak?" tanya Gladys bingung. Ia pun menatap Sena. Sena hanya menggaruk-garuk kepalanya. "Cewek kamu mana?"
            "Cewek? Lho, bukannya kamu pacarnya Sena?" tanya Sera bingung.
            Gladys kaget lagi. “Bukan. Kata Sena, dia mau ngenalin pacarnya hari ini.”
"Lho, Sen, ini gimana, sih?" tanya Sera tambah bingung.
            Sena hanya nyengir. Ia menyerahkan buket bunganya ke Gladys. "Ini semua buat kamu. Aku suka sama kamu, Dys!" kata Sena salting.
            Gladys melongo, ia pun menerima bunga itu dengan bingung. Ia tidak tahu harus senang atau menangis. Sena juga menyerahkan sebuah kado kecil dengan kertas kado pink. Gladys membuka kado itu dengan hati-hati. Ternyata kotak perhiasan. Ketika ia membuka kotaknya, isinya adalah kalung dengan liontin love yang lucu.
            "Kamu suka?" tanya Sena.
            Gladys mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Makasih, ya!"
            "Aku pakaiin, ya!" pinta Sena yang hanya diangguki Gladys.
            Sena mengambil kalung itu dan memakaikannya ke leher Gladys. Gladys menangis. Air matanya tidak bisa ditahan lagi.
            Sena terkejut melihatnya. "Kok kamu nangis, sih?"
            "Aku pikir kamu tega banget, nyuruh aku ngeliat kamu nyatain perasaan kamu ke cewek yang kamu taksir. Rasanya aku mau mati saja."
            Sena tersenyum. "Jadi, kamu juga suka sama aku?"
            Gladys mengangguk dengan susah payah.
            "Berarti kamu mau jadi pacar aku, kan?"
            Gladys ragu-ragu. "Sena, tapi aku kan cacat. Padahal, kamu bisa dapetin gadis manapun yang kamu sukai. Kenapa aku yang cacat begini?"
            Sena tersenyum lagi. "Aku cinta hati kamu, bukan fisik kamu."
            Gladys tersenyum, lalu ia mengangguk. Sena pun mencium keningnya dengan romantis. Gladys hanya bisa memejamkan matanya.
            "Udah, kan? Udah boleh makan belom?" tanya Sera sambil tersenyum senang.
            Keduanya pun sadar akan kehadiran Sera di sana. Sena membantu Gladys duduk di hadapan Sera.
            “Nah, sekarang silahkan makan. Aku juga udah laper banget, nih!” kata Sena.
            "Eh, ini semua, kamu yang traktir kan?" tanya Sera.
            Sena kaget. Ia melihat hidangan yang begitu banyak di meja. "I..iya, deh!"
            Mereka pun tertawa dan menikmati hidangan. Gladys merasa bahagia luar biasa. Ia sekarang percaya dengan ungkapan kalau jodoh, gak bakal kemana-mana.

***


SELESAI